Perbedaan Antara Opini dan Tafsir atas Alquran

Tafsir Alquran Surat al-Taubah Ayat ke 108: Sejarah Kalender Hijriah
October 11, 2018
Makna Tabayyun yang Sesungguhnya
October 24, 2018

Alquran bak mentari yang sinarnya menerangi penjuru bumi, sekaligus bisa disaksikan milyaran mata manusia di dunia.

Tetapi, tiap mata yang memandang memiliki perbedaan persepsi tentang mentari. Sangat tergantung dari sudut pandang mata menyaksikannya. Karena itulah, di masa Nabi serta sahabat telah terjadi banyak perbedaaan pendapat seputar Alquran apalagi setelah berakhirnya masa generasi salaf.

Meskipun begitu, perbedaan ini tetap ada benang merahnya. Bentuk perbedaandalam  cara memandang Alquran diantaranya ada di model penafsiran.

Ada pendekatan bil-matsur (berdasarkan riwayat), pendekatan bil-ma’qul (berdasarkan nalar), ada juga menggunakan pendekatan konvergensi, yaitu memadukan metode bil-matsur dengan bil-ma’qul.

Nah, di luar dari pendekatan penafsiran yang disebutkan di atas yaitu “opini Alquran”.

Disebut opini karena pemaparannya tidak menggunakan pendekatan tafsir yang umum. Opini Alquran umumnya disampaikan ketika menyerang orang lain yang berbeda paham atau mengait-ngaitkan peristiwa khusus/unik yang berbeda jauh sekali dari substansi makna ayat tersebut.

Beberapa contoh opini Alquran yaitu ketika banyak yang mencoba menghubung-hubungkan ayat-ayat Alquran dengan bencana-bencana alam yang marak belakangan ini, khususnya tersebar di media sosial.

Ciri paling mendasar yang membedakan tafsir dengan ‘opini’ Alquran yaitu:

  • Opini Alquran tidak menyebutkan sumber rujukan, baik dari alquran, hadis, atsar, pandangan tabiin atau tafsir ulama-ulama yang mashur. Opini Alquran semata-mata sekadar menarasikan terjemahan Alquran. Opini Alquran jauh berbeda tafsir bil-ma’qul yang konsisten menggunakan pendekatan hermeneutika Alquran.
  • Opini Alquran tidak memakai pendekatan khusus, sebagaimana umumnya digunakan para ahli tafsir dengan metode-metode yang digunakan. Sayangnya kadang orang awam pun memahami opini Alquran sebagai tafsir, padahal opini Alquran tidak menggunakan metode yang bisa dipertanggung jawabkan. Hal ini menyebabkan pemahaman terhadap ayat Alquran tidak lagi akademis. Mudah berubah-ubah antar satu dengan lainnya meskipun ayatnya sama.
  • Opini Alquran tidak bisa diuji kekonsistenannya. Untuk satu kasus iya, namun pada kasus lain tidak, tergantung yang membuat opini. Berbeda dengan tafsir Alquran, meskipun orang lain yang memakainya tapi hasil ujinya tetap sama. Bahkan ahli tafsir yang menggunakan pendekatan yang beda pun tetap punya korelasi dengan hasil tafsir lain yang berbeda metode.

Penutup

Opini Alquran merupakan hujjah yang melegetimasi ayat Alquran dalam melihat realitas tertentu, sayangnya opini sebatas opini, cukuplah dijadikan pengetahuan, bukan sebagai ilmu untuk mengamalkan Alquran. Apalagi untuk menilai keyakinan, pemahaman, dan amal orang lain.

Wallahu a’lam.